Dokter Tirta Bongkar Mitos Kopi, Susu, Rokok dan Olahraga, Selama Ini Salah Kaprah
VIVASoccer – Gaya hidup anak muda zaman sekarang semakin akrab dengan kopi, rokok, hingga makanan manis. Namun, tahukah kamu kalau kebiasaan ini bisa jadi “bom waktu” bagi kesehatan?
Dalam podcast Safe Space bersama Chelsea dan dokter Tirta, dibahas tuntas soal bahaya konsumsi gula berlebih, dampak rokok dan vape, hingga cara menjaga tubuh tetap sehat dengan olahraga dan pola makan seimbang.
Menariknya, dokter Tirta juga membongkar mitos soal kopi, susu, sampai alasan pribadi kenapa ia akhirnya berhenti merokok.
Ilustrasi Rokok
- -
Dalam obrolan tersebut, dokter Tirta menegaskan bahwa kopi sebenarnya aman dikonsumsi asalkan tidak ditambah gula berlebih atau sirup manis.
Bahkan, jika diminum 2–3 shot espresso per hari, kopi hitam dapat memberikan manfaat untuk jantung. Namun, bahaya muncul ketika kopi dikombinasikan dengan rokok atau vape, karena kafein dan nikotin bisa menjadi “rantai maut” yang merusak kesehatan.
Selain itu, dokter Tirta juga mengingatkan bahaya gula berlebih dan makanan ultra processed (UPF) yang semakin populer di kalangan anak muda.
"Hal inilah menjadi pertentangan sama nutrisionis karena bagi nutrisionis ya ultrapres food (UPF)itu semakin sering masuk ke tubuh semakin enggak bagus"jelas dokter Tirta.
Menurutnya, dua hal inilah yang menjadi penyebab meningkatnya risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung di usia muda.
Terkait susu, ia menegaskan bahwa susu sapi memiliki protein paling lengkap dibanding susu nabati seperti oat, soy, atau almond. Meski begitu, bagi yang intoleransi laktosa, pilihan susu nabati tetap bisa menjadi alternatif.
Soal olahraga, dr. Tirta menyarankan minimal 150 menit per minggu. Jenis olahraga bisa disesuaikan dengan tujuan: angkat beban untuk bulking, lari untuk endurance, atau kombinasi keduanya untuk kesehatan secara umum.
Menariknya, dr. Tirta juga membagikan pengalamannya pribadi soal berhenti merokok.
Ia mengaku awalnya kesulitan, tetapi akhirnya berhasil berhenti setelah menyadari besarnya dampak kesehatan serta faktor ekonomi, mengingat harga rokok terus naik.**