Mitos dan Fakta Seputar Pijat Menurut Dokter Tirta

Ilustrasi Pijat Kretek
Sumber :

VIVASoccerDokter Tirta memberikan penjelasan seputar kesehatan dan kebugaran dalam sesi edukasi pada kanl YouTubenya. 

Rahasia Atlet Nasional: Latihan 15 Menit yang Bisa Bikin Kamu Sehat Maksimal

Ia membahas berbagai mitos populer, mulai dari pijat “kretek-kretek" yang sedang ramai di media sosial. 

Menurut Dr. Tirta, pijat kretek-kretek sebenarnya merupakan bagian dari metode stretching dan reposisi yang aman dilakukan selama tidak ada gangguan saraf atau kelainan tulang. 

Jalan Kaki 20 Menit di Pagi Hari Bisa Ubah Kesehatan Total

Ilustrasi Pijat Kretek

Photo :
  • -

Ia menekankan pentingnya konsultasi ke dokter sebelum melakukan pijat jika mengalami cedera serius. 

Stop Pakai Ini! Outfit dan Gear Ini lebih Cocok untuk Lari

"Pada dasarnya pijat kretek-kretek itu milip metode dari stretching dan reposisi sama ya tapi di menggunakan perbantuan. Nah, kretek-kretek ini dan stretching ini bisa dilakukan asal satu. kalian tidak memiliki nyeri atau gangguan saraf." papar dokter Tirta.

"Ya. Jadi kalau misalkan kalian enggak ada gangguan saraf di tulang belakang, enggak ada gangguan saraf, benar-benar enggak ada gangguan saraf, kalian keret-kerte enggak apa-apa. Kedua, tidak ada gangguan tulang." 

"Contoh, skoliosis di atas 20 derajat. Wah, itu kan harus mendapatkan perhatian dari ortopedik. Patah tulang komplit, kalian keretek-keretek ketaur, enggak boleh." jelasnya. 

Untuk cedera akibat olahraga, Dr. Tirta menyarankan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan bila nyeri bertahan lebih dari tiga hari. 

“Nah, ini yang teman-teman harus sadar dengan pijat fisioterapi sama sport massage itu beda dengan kretek.

"Nah, kalo fisioterapi sama sport massage itu diterapkannya tergantung. Ada yang otot, ada yang deep tissue, ada yang fasia, ada yang pada ligamen."

" Jadi, cidera olahraga ya, teman-teman harus ke dokter dulu diagnosa baru ke fisioterapi kalau mendapat penanganan di bagian otot." 

"Recovery, KFR terus ke fisioterapi, cidra olahraga bisa dibantu dengan sport massage. Jadi, ini beda semua itu kalau ya intinya kesinambungan aja lah.” jelasnya.

Mengenai pengaruh genetik terhadap bentuk tubuh, dokter Tirta menegaskan bahwa baik pelari maupun bodybuilder sangat dipengaruhi faktor genetik, tetapi latihan konsisten tetap menjadi kunci keberhasilan.

Ia menutup edukasi dengan menekankan prinsip sederhana: konsumsi makanan dan suplemen secukupnya, hindari ultra-processed food, dan jaga gaya hidup aktif.**