MSG vs Garam, Mana yang Lebih Berisiko Bagi Kesehatan? Ini Jawaban Ahli

Ilustrasi MSG
Sumber :

VIVASoccer – Garam dan MSG (micin) adalah dua bahan yang hampir selalu ada di dapur, tapi mana yang sebenarnya lebih berbahaya bagi kesehatan? 

img_title Fakta Mengejutkan: Gula Berlebih Bisa Picu Penyakit Serius, Banyak Orang Tak Sadar

Banyak orang percaya kelebihan garam bisa memicu hipertensi, sementara MSG dianggap sekadar penyedap rasa. 

Namun, fakta terbaru menunjukkan bahwa keduanya memiliki dampak berbeda dan penting untuk dikonsumsi dengan bijak. 

img_title 5 Makanan Super untuk Mendukung Umur Panjang dan Tubuh Sehat

Ilustrasi Garam

Photo :
  • -

img_title Waspada! 6 Makanan Ini Bisa Picu Lonjakan Gula Darah Penderita Diabetes

Dari pengaruh terhadap tekanan darah, metabolisme, hingga penumpukan lemak, simak penjelasan lengkap berikut agar pola makan Anda tetap aman dan sehat.

Menurutnya, garam atau natrium klorida memiliki batas aman konsumsi harian sekitar 2.000 mg natrium atau setara satu sendok teh garam. 

"Secara umum tandungan Garam adalah natrium klorida NaCl, menurut WHO batas aman mengkonsumsinya adalah sekitar 1700-2200mg per hari" jelas dokter Hans. 

Garam justru memiliki banyak manfaat, di antaranya membantu pembentukan asam lambung, mendukung fungsi kelenjar adrenal, menjaga imunitas, menghidrasi tubuh, hingga menjadi “pompa energi” bersama kalium. 

Kekurangan garam bisa menyebabkan mudah lelah, gangguan keseimbangan, hingga mood swing. 

Namun, kelebihan konsumsi garam terutama dari makanan ultra-proses seperti sosis, nugget, atau keripik dapat meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung, apalagi jika disertai kurangnya asupan kalium dari sayuran.

Sementara itu, MSG atau monosodium glutamat memiliki batas aman konsumsi sekitar 30 mg per kilogram berat badan. Artinya, seseorang dengan berat 70 kg hanya aman mengonsumsi sekitar setengah sendok teh MSG per hari. 

MSG memang memberi rasa gurih, tetapi dampak negatifnya cukup serius jika dikonsumsi berlebihan, mulai dari ruam kulit, gangguan memori, perubahan mood, nyeri sendi, hingga penumpukan lemak perut. 

Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar insulin yang dipicu MSG, sehingga memicu resistensi insulin dan berisiko pada diabetes tipe 2.

Dokter Hans menegaskan, masyarakat sebaiknya lebih bijak dalam mengonsumsi kedua bahan ini. 

"Jadi selama ini kalau yang suka konsumsi MSG apalagi mungkin sering makan di luar sering makan di restoran ya mungkin perlu dihindari perlu dicari makanan-makanan yang ya lebih minim (MSG) lah" pesan dokter Hans. 

Halaman Selanjutnya
img_title