Sering Begadang? Hati-Hati, Risiko Kanker hingga Stroke Mengintai

Gejala Tidur
Sumber :

VIVASoccerBegadang bukan sekadar kebiasaan sepele. Tubuh manusia memiliki jam biologis atau sirkadian rhythm yang mengatur kapan harus beristirahat dan kapan harus aktif. 

img_title Basic Wear Naik Kelas, Inovasi Material Jadi Sorotan Gaya Hidup 2026

Saat tidur, tubuh melakukan banyak proses penting, mulai dari memperbaiki sel rusak, memperbarui jaringan, memulihkan energi otak, hingga menjaga fungsi organ vital.

Jika waktu tidur sering terabaikan, sel-sel rusak akan menumpuk. Akibatnya tubuh menjadi cepat lelah, mengantuk, dan berisiko mengalami penurunan fungsi organ. 

img_title Kisah Pilu Dokter Kanker Otak yang Gagal Wujudkan Mimpi di Piala Dunia

Begadang

Photo :
  • -

img_title Siasat Sehat Jaga Kebugaran Tubuh Saat Begadang Nonton Piala Dunia 2026

Dalam jangka panjang, kebiasaan begadang dapat memicu penyakit serius seperti gagal jantung, stroke, kanker, hingga gangguan ginjal.

Otak pun ikut terdampak. Sama seperti komputer yang butuh pendinginan, otak memerlukan istirahat agar jaringan saraf tidak rusak. 

Tidur berkualitas, terutama dalam fase deep sleep dan REM sleep, hanya bisa tercapai bila tubuh beristirahat cukup dalam suasana gelap. Sebaliknya, tidur dengan cahaya terang membuat pemulihan tubuh tidak maksimal.

Para dokter menekankan pentingnya tidur minimal tujuh jam per hari. Bagi pekerja malam seperti tenaga medis atau satpam, waktu istirahat setelah shift harus benar-benar digunakan untuk tidur, bukan melanjutkan aktivitas.

Efek begadang mungkin belum terasa di usia muda. Namun, kebiasaan ini bisa menjadi "tabungan penyakit" yang baru muncul saat memasuki usia 40–50 tahun, dalam bentuk stroke, gagal jantung, atau gangguan kesehatan lainnya.