Waspada Bahaya Sound Horeg! Bisa Sebabkan Gangguan Pendengaran Permanen

Sound Horeg
Sumber :

VIVASoccer – Fenomena sound horeg yang marak di berbagai daerah kini menjadi perhatian serius kalangan medis. 

Vietnam Waswas, Timnas Indonesia Mengancam Posisi di Ranking FIFA

Menurut dr. Andrew Halim, spesialis THT Bedah Kepala Leher, paparan suara dengan intensitas sangat tinggi seperti pada sound hore berpotensi menimbulkan noise-induced hearing loss atau gangguan pendengaran akibat kebisingan.

"Dan bahayanya sound horeg ini saya kira kan penurunan pendengaran ya dokter Eri ya. Penurunan pendengaran itu kalau saya boleh bilang itu agak enggak enak ya." ujar dokter Andrew. 

Persib Bandung Bisa Kalah, Bojan Hodak Bocorkan Titik Krusial Jelang Lawan Persijap

Sound Horeg

Photo :
  • -

"Kalau ada paparan sebesar misalnya ini 90 desibel, maka itu hanya boleh 8 jam." tambahnya. 

AC Milan Ngotot Target Manuel Akanji?

Suara dari sound hore bisa mencapai 135 desibel, setara dengan deru mesin pesawat.

Padahal, berdasarkan standar OSHA dan NIOSH, paparan suara 90 desibel saja hanya aman selama delapan jam. Jika intensitas meningkat, waktu aman akan berkurang drastis. 

Pada level 135 desibel, telinga hanya mampu bertahan kurang dari satu menit sebelum berisiko mengalami kerusakan.

Kerusakan awal biasanya terjadi pada sel rambut luar di koklea yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik ke otak. 

Jika sel ini rusak, gangguan pendengaran yang muncul bersifat permanen dan tidak bisa disembuhkan, hanya dapat dibantu dengan alat bantu dengar.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan menggunakan ear plug atau earmuff untuk mengurangi paparan kebisingan. Selain itu, penting juga untuk menghindari posisi tepat di depan speaker dan menjaga jarak aman. 

Jika sudah muncul gejala seperti telinga berdenging (tinnitus) atau pendengaran terasa menurun, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter THT dengan tes audiometri maupun OAE (Oto Acoustic Emission).

Edukasi tentang bahaya kebisingan ini dinilai penting, mengingat stigma gangguan pendengaran masih dianggap memalukan oleh sebagian masyarakat. 

Padahal, menjaga kesehatan telinga sama pentingnya seperti merawat mata dengan kacamata atau kulit dengan sunscreen.**