Ada Apa dengan Timnas? Pemain Diaspora Pilih Hijrah ke Klub Asia Tenggara

Timnas Indonesia
Sumber :
  • id.pinterest.com

VIVASoccer – Fenomena baru tengah mencuri perhatian di dunia sepak bola nasional. Sejumlah pemain naturalisasi Timnas Indonesia kini memilih melanjutkan karier di Asia Tenggara.

Laga Penuh Gengsi! Bali United Siap Balikkan Rekor Buruk Lawan Madura United

Tak sedikit di antaranya bahkan merumput di kompetisi lokal, BRI Liga 1.

Nama Rafael Struick dan Thom Haye menjadi contoh paling mencolok. Struick resmi berseragam Dewa United, sementara Haye diperkenalkan sebagai pemain anyar Persib Bandung.

Persijap Jepara Siap Akhiri Rekor Buruk Kontra Arema di BRI Super League

Tidak hanya di Indonesia, eksodus ini juga terlihat ke negara tetangga. Sandy Walsh dan Shayne Pattynama, misalnya, memutuskan berkarier di Thailand dengan bergabung bersama Buriram United.

Mencari Menit Bermain?

Spasojevic On Fire, Bawa Bhayangkara FC Tekuk Persis Solo di BRI Super League

Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar. Apakah faktor finansial menjadi alasan utama, atau karena mereka kesulitan bersaing untuk mendapatkan menit bermain di level tinggi?

Kasus Struick cukup jelas menggambarkan persoalan ini. Saat masih membela Brisbane Roar di A-League Australia, ia hanya tampil 10 kali dengan catatan satu gol dalam semusim.

Shayne Pattynama pun mengalami nasib serupa. Di klub Belgia KAS Eupen yang bermain di Challenger Pro League, ia hanya mencatat 19 penampilan, sebagian besar dari bangku cadangan.

Situasi tidak jauh berbeda dialami Sandy Walsh. Sejak memperkuat Yokohama Marinos pada Februari 2025, ia hanya turun delapan kali di ajang resmi sebelum akhirnya menerima tawaran dari Buriram United.

Selain mereka, Jordi Amat juga kembali ke Asia Tenggara dengan bergabung Persija Jakarta setelah kontraknya habis di Johor Darul Ta’zim.

Sementara itu, pemain muda Jens Raven kini mencoba meniti karier bersama Bali United setelah sebelumnya berkarier di Belanda.

Kualitas Dipertanyakan

Eksodus ini memunculkan spekulasi bahwa alasan terbesar para pemain naturalisasi tersebut pindah adalah jaminan menit bermain.

Namun, tak sedikit suara kritis yang menilai kepindahan ini justru menegaskan bahwa mereka tidak cukup kompetitif untuk bersaing di level elite Eropa maupun Asia Timur.

Di sisi lain, Liga Indonesia jelas mendapat keuntungan dengan kehadiran pemain berlabel internasional.

Meski demikian, muncul pula pertanyaan mendasar: apakah naturalisasi benar-benar mampu meningkatkan kualitas Timnas Indonesia, atau hanya menjadi solusi instan tanpa menyentuh akar permasalahan sepak bola nasional