Status Juara Tak Menjamin, Marquez Kirim Sinyal Akhir Karier
- MotoGP
VIVASoccer – Di tengah statusnya sebagai juara dunia MotoGP dan pembalap unggulan Ducati Lenovo, Marc Marquez justru melontarkan pengakuan mengejutkan. Menjelang musim MotoGP 2026, rider Spanyol itu secara terbuka mengakui bahwa akhir kariernya di kelas utama bisa datang lebih cepat dari perkiraan.
Marquez memasuki musim 2026 dengan reputasi luar biasa. Gelar juara dunia ketujuh di kelas utama kembali ia raih bersama Ducati, menjadikannya favorit kuat mempertahankan titel.
Namun di balik performa impresif tersebut, Marquez mulai berbicara jujur soal batas fisik dan efek cedera panjang yang menghantuinya sejak kecelakaan serius pada 2020.
Marc Marquez
- Berbagai Sumber
Dalam wawancara dengan media Spanyol La Sexta, Marquez menegaskan bahwa kondisi tubuh akan menjadi faktor penentu kapan ia harus berhenti balapan.
“Tantangan terbesar seorang atlet bukan hanya mempertahankan performa, tapi memahami kapan saat yang tepat untuk berhenti,” ujar Marquez, dilansir dari laman tvOne Jumat (9/1/2026).
Di usia 32 tahun, Marquez mengaku secara mental masih sangat lapar akan kemenangan. Motivasi dan ambisinya tetap utuh. Namun secara fisik, ia mulai merasakan kelelahan yang tidak bisa diabaikan akibat akumulasi cedera dan operasi selama beberapa musim terakhir.
“Secara mental saya masih siap bertarung di level tertinggi. Tapi tubuh memberi sinyal, dan itu harus dievaluasi setiap musim,” ungkapnya.
Marquez bahkan menyebut kemungkinan pensiun bisa terjadi lebih cepat dari yang ia bayangkan, bukan karena kehilangan hasrat balap, melainkan karena tuntutan fisik MotoGP yang semakin ekstrem.
Pernyataan ini menjadi sinyal serius, mengingat MotoGP 2026 diprediksi akan menjadi salah satu musim paling kompetitif dalam satu dekade terakhir.
Meski demikian, Marquez menegaskan satu hal: ambisinya di MotoGP 2026 tidak akan berkurang sedikit pun. Ia tetap menargetkan tampil kompetitif dan mempertahankan gelar juara dunia bersama Ducati Lenovo, tanpa kompromi di lintasan.
Di luar balapan, Marquez juga mulai membuka rencana hidup pribadinya. Ia mengungkapkan keinginan untuk menjadi seorang ayah dalam waktu dekat, namun secara tegas menyatakan tidak ingin anaknya mengikuti jejak sebagai pembalap profesional.
Menurut Marquez, nama besar dan kemudahan akses justru bisa menjadi tekanan besar bagi anaknya. “Keuntungan dan kemudahan tidak selalu positif. Itu bisa mengurangi rasa lapar dan dorongan untuk berjuang,” jelasnya.