Krisis Reputasi Perusahaan Bisa Meledak dalam Hitungan Jam

Cara Perusahaan Hadapi Krisis di Era Media Sosial
Sumber :
  • Istimewa

 

img_title Tujuh Laga MU Tanpa Menang, Kandidat Pengganti Michael Carrick Bermunculan

 

VIVANews - Perkembangan media sosial yang masif membuat sebuah persoalan bisnis dapat berkembang menjadi krisis reputasi hanya dalam hitungan jam. 

img_title Madura United vs Persib, Ze Gomes Kirim Pesan Tegas

Satu unggahan, komentar, video, atau pengalaman konsumen kini mampu memicu percakapan publik secara masif serta menarik perhatian media sebelum perusahaan sempat memberikan penjelasan resmi.

Direktur Eugenia Communications PR Agency and Event Organizer, Eugenia Siahaan, menyatakan bahwa situasi ini menempatkan manajemen krisis sebagai salah satu fungsi esensial bagi praktisi public relations (PR) modern. 

img_title Persib Dihadapkan Jadwal Melelahkan, Marc Klok Targetkan Tiga Poin di Markas Madura United

Tantangan utama saat ini bukan sekadar mengamankan pemberitaan saat ada agenda korporasi, melainkan memastikan kesiapan organisasi menghadapi tekanan reputasi sewaktu-waktu.

“Sekarang krisis bisa muncul dari mana saja. Sering terjadi kondisi di mana perusahaan belum siap memberikan penjelasan, tetapi publik sudah lebih dulu membentuk persepsi. Karena itu, tidak bisa jika PR baru bekerja ketika krisis sudah terjadi. Hubungan dengan stakeholder, khususnya media, harus dibangun jauh sebelumnya,” ujar Eugenia.

Pentingnya Hubungan Jangka Panjang dan Preventif dengan Media

Fondasi krusial dalam manajemen krisis adalah membangun relasi yang kredibel dan berkelanjutan dengan media massa. 

Konferensi pers, media briefing, dan media gathering tetap diperlukan sebagai instrumen komunikasi, namun relasi tersebut tidak boleh bersifat transaksional semata.

“Kalau kita hanya menghubungi media ketika ada press release dan berharap mereka menulis, hubungan itu menjadi sangat transaksional. Padahal, ketika krisis terjadi, kita membutuhkan media yang sudah mengenal kita, bukan baru mencari kontak media ketika masalah muncul,” jelasnya.

Eugenia mendorong korporasi memperkuat media relations melalui kegiatan preventif non-pemberitaan, seperti media visit. 

Pertemuan informal ini memfasilitasi diskusi mendalam terkait dinamika industri, isu, maupun penanganan kasus tanpa harus berujung pada publikasi artikel instan.

“Tidak semua pertemuan dengan media harus berakhir dengan berita. Kadang kita hanya perlu duduk bersama, menjelaskan konteks sebuah industri, dan mendengarkan bagaimana media melihat suatu isu. Justru hubungan seperti ini yang bisa menjadi investasi jangka panjang,” kata Eugenia.

Hubungan yang terjalin secara konsisten bertindak sebagai tindakan preventif. Ketika krisis melanda, media yang telah mengenal profil perusahaan cenderung melakukan verifikasi langsung guna menghindari disinformasi serta memberikan ruang bagi penyampaian data yang akurat.

Halaman Selanjutnya
img_title