Jepang dan Irak Ancam Keluar dari AFC! Pilih Hengkang Akibat Marak Praktik Ini
- Real Sociedad
VIVASoccer – Negara-negara di luar Semenanjung Arab kini menunjukkan ketidakpuasan yang semakin nyata terhadap kebijakan Asian Football Confederation (AFC) yang dianggap diskriminatif.
Ketidakpuasan ini bukan sekadar rumor belaka, melainkan mulai memunculkan gerakan nyata dari beberapa federasi besar.
Termasuk Jepang dan Irak, yang disebut-sebut menyiapkan langkah tegas untuk merespons perlakuan tidak adil tersebut.
Timnas Irak
- -
Menurut laporan media Football-Tribe (17/10/2025), berbagai keputusan AFC dalam beberapa tahun terakhir kerap merugikan tim-tim Jepang, baik di level klub maupun tim nasional.
Hal ini diperkuat oleh laporan media Irak, UTV (16/10/2025), yang menyebut Jepang akan menjadi motor penggerak utama dalam upaya keluar dari AFC.
"Ada gerakan di Jepang untuk menarik diri dari AFC dan mendirikan 'Federasi Asia Timur' yang independen." ucap media UTV,Irak.
"Mereka memprotes apa yang mereka anggap sebagai manipulasi dan korupsi di dalam AFC, yang dikendalikan oleh dana Qatar." tambah media tersebut.
Tidak hanya Jepang, Federasi Sepakbola Irak pun dilaporkan siap mengikuti langkah serupa.
Terutama setelah pelatih kepala Timnas Irak, Graham Arnold, melayangkan protes keras terkait keputusan AFC yang menunjuk Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah.
Arnold menilai keputusan ini jelas menguntungkan tim tuan rumah dan merugikan tim lain.Indonesia juga merasakan dampak kebijakan AFC.
“Sejak awal saya melatih, saya tidak pernah melihat kompetisi seperti ini. Saya sebelumnya diberi tahu bahwa playoff akan dilaksanakan di tempat netral. Juga, kedua tim yang lolos adalah tim tuan rumah dan fans.” ujar Arnold.
Timnas Garuda mendapat jadwal yang padat dengan jeda istirahat hanya tiga hari antarpertandingan, berbeda dengan tim dari Arab Saudi dan Qatar yang mendapat waktu lebih longgar.
Pada laga melawan Irak, Indonesia juga sempat dirugikan karena VAR jarang digunakan meski terjadi beberapa pelanggaran keras di area penalti.
Meski demikian, mantan pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, memilih untuk tidak mengajukan protes resmi terhadap perlakuan tersebut.
Di Jepang, kemarahan federasi sudah berlangsung lama. Klub-klub Jepang kerap menjadi korban di ajang kompetisi antarklub AFC, termasuk dalam kasus Vissel Kobe di ACL Elite musim 2024/2025.