Debut Manis Mitchell Baker di Piala AFF 2026, Tapi Herdman Tetap Evaluasi
VIVASoccer - Tim Nasional Indonesia mengawali langkah di laga perdana Grup A Piala AFF 2026 dengan hasil yang mengesankan setelah memetik kemenangan telak 5-1 atas Kamboja di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kendati berhasil mengamankan tiga poin penuh lewat pesta gol, pelatih kepala John Herdman menegaskan bahwa sektor pertahanan Tim Garuda masih membutuhkan evaluasi mendalam usai gagal mencatatkan clean sheet.
Kemenangan meyakinkan Skuad Garuda diwarnai oleh aksi impresif penyerang muda Mitchell Lee Baker yang mengemas hat-trick pada laga debutnya, ditambah sumbangan gol dari Sandy Walsh dan Jens Raven.
Namun, gol balasan Kamboja yang dicetak oleh Sokmeng Chea menjadi catatan kritis yang langsung mendapat perhatian serius dari sang juru taktik.
Kegagalan Meraih Clean Sheet
Meski mengapresiasi dominasi permainan dan skema penyerangan anak asuhnya, John Herdman tidak menyembunyikan rasa kecewanya terkait kebobolan satu gol di kandang sendiri.
Dalam konferensi pers pascapertandingan, pelatih asal Kanada tersebut menyatakan bahwa target utama timnya pada setiap laga adalah menjaga gawang tetap steril.
Herdman menilai para pemain belakang sempat kehilangan konsentrasi saat mengatasi skema serangan balik cepat Kamboja. Kamboja yang memiliki pemain depan berkecepatan tinggi berhasil memanfaatkan celah kelenggangan di barisan pertahanan Indonesia.
Hal ini menjadi fokus pembenahan utama tim pelatih sebelum melanjutkan perjalanan turnamen.
Mitchell Baker
- kitagaruda.id
Progres Taktik dan Performa Lini Depan Garuda
Di luar catatan pada lini pertahanan, Herdman mengaku puas dengan penerapan struktur taktik yang diusung anak asuhnya. Menurutnya, filosofi permainan high pressing yang dibangun selama masa pemusatan latihan di Bali sudah mulai memperlihatkan bentuk aslinya.
Tekanan agresif yang dilancarkan Thom Haye dan kawan-kawan sejak babak pertama membuat Kamboja kesulitan mengontrol aliran bola. Hasilnya, kombinasi serangan mematikan mampu menghasilkan tiga gol kilat yang membongkar pertahanan lawan.
Keputusan merotasi pemain di babak kedua juga dinilai strategis untuk menjaga kebugaran fisik pemain di tengah jadwal turnamen yang padat. Kerja sama antara pemain senior dan pemain muda terbukti berjalan solid sepanjang 90 menit.