Hydration Break di Piala Dunia 2026 jadi Pro dan Kontra, Ini Sejarah dan Kontroversinya
- dailystar
VIVASoccer – Jeda minum atau hydration break resmi diterapkan di seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026, sebuah kebijakan yang lahir dari panjangnya perdebatan antara kepentingan bisnis hiburan dan keselamatan medis para pemain.
FIFA mengumumkan aturan ini sejak Desember 2025, menetapkan bahwa setiap babak pertandingan akan dihentikan sementara selama tiga menit pada menit ke-22 dan ke-65 untuk memberi kesempatan seluruh pemain beristirahat dan minum.
Kebijakan ini juga merupakan hasil evaluasi FIFA dari pelaksanaan Piala Dunia Antarklub yang sebelumnya digelar di Amerika Serikat, di mana para pemain dan pelatih Chelsea mengaku kesulitan tampil maksimal akibat kondisi cuaca panas yang ekstrem.
Namun sebenarnya hydration break bukanlah hal baru karena sejarah mencatat bahwa jeda minum pertama kali muncul secara tidak resmi pada Piala Dunia 2014 di Brasil.
Saat itu praktik ini dilakukan pertama kali dalam pertandingan fase grup antara Amerika Serikat dan Portugal di Manaus yang berlangsung dalam kondisi cuaca sangat panas dan lembap.
Jeda minum kemudian resmi diberlakukan pertama kali dalam sejarah Piala Dunia di Fortaleza, Brasil, ketika laga babak 16 besar antara Belanda dan Meksiko berlangsung dengan suhu mencapai 39 derajat Celsius atau sekitar 102 derajat Fahrenheit.
Penerapan aturan tersebut di Brasil pun tidak berjalan mulus karena harus melalui keputusan hukum terlebih dahulu, di mana sebuah pengadilan ketenagakerjaan Brasil mengeluarkan perintah yang mewajibkan FIFA memberlakukan jeda minum jika suhu indeks Wet-Bulb Globe Temperature atau WBGT mencapai atau melebihi 32 derajat Celsius.
WBGT sendiri bukan sekadar termometer biasa karena indeks ini merupakan ukuran komposit yang memperhitungkan kombinasi suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, hingga intensitas radiasi matahari secara langsung.
Tujuan utama penerapan jeda minum ini adalah mengurangi risiko pemain mengalami heatstroke atau serangan panas yang tidak hanya membahayakan kondisi fisik, tetapi juga berpotensi merusak kualitas pertandingan secara keseluruhan.
Meski bertujuan baik, aturan hydration break tidak lepas dari polemik di kalangan pecinta sepak bola maupun pihak media penyiaran.
Beberapa stasiun televisi memanfaatkan jeda tiga menit tersebut untuk menayangkan iklan, sebuah praktik yang langsung memicu kemarahan penonton yang merasa keseruan pertandingan terpotong begitu saja.