Tiga Laga, 11 Kali Kena Bobol: Ada Apa dengan West Ham?

West Ham United
Sumber :

VIVASoccer – Tiga laga, tiga kekalahan, 11 gol bersarang. Awal musim West Ham United benar-benar bencana dan langsung menempatkan Graham Potter dalam tekanan besar.

Chelsea Tebus Garnacho £40 Juta, United Lepas Bintang Muda Argentina

Kekalahan terbaru di Carabao Cup dari Wolverhampton bahkan berakhir ricuh, dengan kapten Jarrod Bowen terlihat bersitegang dengan salah satu suporter.

Situasi makin terasa genting bagi The Hammers.

Aib! Manchester United Dipermalukan Tim Kasta Bawah di Carabao Cup 2025

Tanda Bahaya Sudah Ada Sejak Lama

Statistik menunjukkan tren negatif ini bukan hal baru. Sejak Potter datang pada Januari lalu, West Ham hanya menang dua kali dalam 13 pertandingan Premier League terakhir (4 imbang, 7 kalah).

Liverpool Enggan Lepas Harvey Elliot?

Jika dihitung khusus klub yang konsisten di Premier League, West Ham ada di posisi paling bawah dalam periode itu.

Potter hanya punya rasio kemenangan 25%, lebih buruk dari mayoritas manajer West Ham modern, kecuali Avram Grant.

Lini pertahanan jadi sorotan utama: musim ini mereka sudah menghadapi tembakan terbanyak ke gawang (12) dan sering kehilangan keunggulan.

Musim ini pun dimulai dengan rekor terburuk sejak 1954: dua kekalahan beruntun di liga dengan delapan gol kebobolan.

Rekrutmen Masih Jadi Masalah Besar

Musim panas, West Ham mendatangkan El Hadji Malick Diouf, Mads Hermansen, dan Callum Wilson.

Namun mereka gagal mengganti kepergian Mohammed Kudus (dijual ke Tottenham) dan tak juga menemukan sosok gelandang perebut bola yang tangguh.

Eks West Ham, Nigel Reo-Coker, menilai kondisi tim ini "sangat suram".

“Mereka tampak seperti kumpulan individu, tanpa fight dan tanpa arah. Midfield lemah, tak ada yang bisa memenangi bola, juga tak ada target man di depan. Rekrutmen West Ham sudah lama jadi masalah, tak jelas arah bangunannya,” ujarnya.

Sejak Malam Ajaib di Praha

Ironisnya, masalah ini mengakar sejak West Ham meraih gelar Eropa (UEFA Conference League 2023).

Sejak ditinggal Declan Rice, tim gagal menemukan sosok pemersatu. Edson Alvarez, James Ward-Prowse, hingga Kudus sempat memberi harapan tapi akhirnya inkonsisten.

Setelah pergantian dari Moyes ke Julen Lopetegui, lalu kini Potter, arah pembangunan tim tetap abu-abu.

Bahkan direktur teknis Tim Steidten yang sempat digadang jadi arsitek proyek ini sudah angkat kaki.

Kini, Potter mencoba membangun dengan skuad yang sebagian besar masih bergantung pada Jarrod Bowen, Tomas Soucek, dan Lucas Paquetá. Bedanya, tak ada lagi Rice yang jadi jangkar permainan.

Akhirnya Tergantung Bursa Transfer

Potter dikenal bukan tipe pelatih yang ribut menuntut transfer. Namun realitas di lapangan berkata lain.

Formasi back three tidak jalan, lini tengah lamban, dan lini serang terlalu bergantung pada satu pemain.

Profit and Sustainability Rules (PSR) juga membatasi ruang gerak klub di bursa transfer.

Artinya, solusi mungkin hanya datang jika West Ham bisa memaksimalkan sisa jendela transfer musim panas ini.

Jika tidak ada perubahan signifikan, laga akhir pekan melawan Nottingham Forest bisa jadi penentu nasib Potter.

Fans sudah kehilangan kesabaran, dan manajemen mungkin tak menunggu lebih lama