Piala Dunia 2026 Paling Kontroversi Sepanjang Sejarah, 48 Tim 104 Laga Tuai Kritik

Piala Dunia 2026
Sumber :
  • Pinterest

VIVASoccer – Piala Dunia 2026 digadang-gadang sebagai edisi terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Namun di balik kemegahan turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu, muncul pula suara-suara yang meragukan daya tarik format barunya.

img_title Barcelona Incar Aymeric Laporte Usai Tampil Gemilang di Piala Dunia 2026

Untuk pertama kalinya, Piala Dunia akan diikuti 48 negara dengan total 104 pertandingan. Turnamen juga akan berlangsung lebih lama, yakni mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026, serta digelar di 16 kota yang tersebar di tiga negara tuan rumah.

Secara konsep, perubahan ini menghadirkan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih banyak tim berarti lebih banyak kesempatan bagi negara-negara dari berbagai benua untuk tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.

img_title Igor Tolic Ungkap Strategi Rotasi Persib di Piala Presiden 2026

Namun, tidak semua pencinta sepak bola menyambut format baru tersebut dengan antusias. Sebagian penggemar lama, termasuk mereka yang telah mengikuti Piala Dunia sejak era 1970-an, justru menilai edisi 2026 berpotensi mengurangi daya tarik utama turnamen.

Salah satu kekhawatiran utama adalah jumlah pertandingan yang melonjak signifikan. Jika sebelumnya Piala Dunia hanya menyajikan 64 laga, kini jumlahnya meningkat menjadi 104 pertandingan.

img_title Prediksi 23 Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026

Kondisi ini dinilai dapat mengikis eksklusivitas yang selama ini menjadi ciri khas ajang empat tahunan tersebut. Setiap laga Piala Dunia selama ini dikenal memiliki nilai spesial karena keterbatasan jumlah pertandingan.

Namun dengan format baru, muncul kekhawatiran bahwa kuantitas akan mengalahkan kualitas. Selain itu, faktor jadwal pertandingan juga menjadi sorotan. Bagi penonton di Eropa dan sejumlah wilayah lain, banyak laga diperkirakan akan berlangsung hingga dini hari akibat perbedaan zona waktu dengan Amerika Utara.

Masalah lain datang dari kondisi cuaca. Sejumlah kota tuan rumah diketahui memiliki suhu panas dan tingkat kelembapan tinggi pada musim panas. Situasi tersebut diprediksi menjadi tantangan berat bagi pemain maupun suporter.

Pada ajang Piala Dunia Antarklub yang sebelumnya digelar di Amerika Serikat, cuaca ekstrem bahkan sempat memengaruhi jalannya pertandingan. Kondisi serupa dikhawatirkan kembali terjadi pada Piala Dunia 2026.

Selain aspek teknis, isu non-olahraga juga ikut mencuat. Kebijakan visa, ketegangan antarnegara, hingga akses perjalanan bagi suporter dari negara tertentu berpotensi menjadi tantangan tersendiri selama turnamen berlangsung.

Halaman Selanjutnya
img_title