Alasan Mengapa Asia Jadi Tujuan Utama Tur Pramusim Klub Raksasa Eropa

Tur Pramusim Klub Elit Eropa di Asia (Ilustrasi)
Sumber :
  • Viva.co.id

VIVASoccer – Musim panas 2025 menjadi saksi kedatangan tim-tim elite Eropa di benua Asia. Liverpool, sang juara Premier League, mengunjungi Hong Kong dan Jepang.

Rivalnya, Arsenal, menyambangi Hong Kong dan Singapura. Sementara itu, Barcelona memilih Jepang dan Korea Selatan, dan AC Milan bertandang ke Singapura dan Hong Kong. Jauh sebelum itu, Manchester United sudah lebih dulu memulai tur di Malaysia.

Bagi para pelatih, tur pramusim adalah kesempatan emas untuk menyatukan tim, menguji taktik, dan meningkatkan kebugaran pemain baru.

Namun, di luar aspek teknis, perjalanan jauh ini adalah bagian dari strategi bisnis klub. Asia, dengan populasi 4,8 miliar jiwa atau 58,7% dari total penduduk dunia, merupakan pasar sepak bola yang sangat besar.

Antusiasme penggemar di Asia tak perlu diragukan. Hal ini terbukti dari tiket pertandingan yang ludes terjual dan stadion yang selalu penuh.

Stadion Kai Tak di Hong Kong, misalnya, dipadati 100 ribu penonton untuk dua pertandingan.

Begitu pula Stadion Nasional Singapura yang penuh sesak saat digelarnya Singapore Football Festival 2025.

Fenomena ini tidak terlepas dari keberadaan komunitas-komunitas suporter klub Eropa yang solid dan loyal di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Strategi Bisnis yang Saling Menguntungkan

Kehadiran klub-klub besar ini tidak hanya menguntungkan mereka sendiri, tetapi juga memberikan dampak ekonomi signifikan bagi kota atau negara tuan rumah.

Billy Hogan, CEO Liverpool, terang-terangan menyebut bahwa Asia adalah basis penggemar yang sangat penting dan besar.

Kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk mempererat kemitraan dengan sponsor-sponsor utama mereka yang berbasis di Asia, seperti Standard Chartered dan Japan Airlines.

Klub-klub tersebut meraup keuntungan finansial yang fantastis. Laporan TBR Football memperkirakan Liverpool akan mendapatkan sekitar 8 hingga 10 juta poundsterling dari promotor tur.

Sementara itu, Barcelona diperkirakan meraup pemasukan minimal 20 juta euro dari tur mereka di Jepang dan Korea Selatan.

Angka-angka ini didapat dari berbagai sumber, termasuk bayaran tetap, insentif performa, dan kesepakatan komersial.

Selain itu, tur pramusim juga memicu lonjakan penjualan produk merchandise. Media Singapura, Channel News Asia (CNA), melaporkan bahwa penjualan jersey Arsenal, Newcastle United, dan AC Milan di Singapura naik lebih dari 20% jelang pertandingan.

Namun, tujuan terbesar dari perjalanan ini adalah untuk membangun dan memperkuat merek klub agar lebih menarik di mata calon sponsor di Asia.

Dampak ekonomi yang dirasakan kota tuan rumah juga tidak main-main. Laporan media South China Morning Post memperkirakan Hong Kong meraup keuntungan hingga 428 juta dolar Hong Kong dari Hong Kong Football Festival.

Acara ini juga menguntungkan sektor pariwisata, perhotelan, dan transportasi. Seorang perwakilan hotel di Hong Kong bahkan melaporkan kenaikan tarif kamar hingga 12% selama periode tersebut.

Dengan demikian, tur pramusim di Asia bukan sekadar ajang pemanasan fisik bagi para pemain, tetapi juga manuver cerdas dalam ekspansi pasar global.

Kunjungan klub-klub Eropa ini menjadi bukti nyata bahwa sepak bola adalah industri multi-miliar yang mampu menciptakan dampak ekonomi masif, baik bagi klub maupun negara yang dikunjungi.*