Bursa AS Mendidih! Investor Indonesia Berbondong-bondong Amankan Saham
- Istimewa
VIVA - Kesadaran finansial masyarakat Indonesia dalam membangun kekayaan jangka panjang kini makin terencana.
Generasi baru investor domestik secara aktif melakukan diversifikasi portofolio ke berbagai kelas aset internasional melalui kepemilikan saham asli yang teregulasi secara lokal pada perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Apple, Google, hingga Tesla.
Minat masyarakat terhadap investasi Saham dan Exchange Traded Fund (ETF) Amerika Serikat (AS) melesat tajam tahun ini seiring capaian rekor tertinggi indeks S&P 500.
Berdasarkan data internal platform investasi Pluang, dalam tiga tahun terakhir jumlah investor saham AS yang bertransaksi aktif setiap bulan mengalami kenaikan hingga 6 kali lipat.
Sementara itu, pertumbuhan investor pemula di kelas aset ini melonjak drastis hingga 63 kali lipat.
Penetrasi investasi saham global kini juga tidak lagi didominasi oleh kelompok masyarakat berpendidikan luar negeri atau penghuni kota-kota metropolitan.
Data Pluang mencatat sebesar 38 persen investor saham AS berasal dari kota sekunder dan tertier, mencakup lebih dari 300 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Pertumbuhan AUM dan Pola Investasi Jangka Panjang
Total Dana Kelolaan atau Assets Under Management (AUM) Saham dan ETF AS di Pluang tumbuh 19 kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Pada Kuartal I 2026, sebanyak 1 dari 5 investor baru memilih memulai perjalanan investasinya melalui kelas aset saham global.
Komitmen investasi jangka panjang juga terlihat dari retensi pengguna lebih dari 70 persen investor yang membeli saham global setahun lalu masih mempertahankan kepemilikan aset (hold) hingga saat ini.
"Investor Indonesia kini jauh lebih mahir dalam menemukan peluang pertumbuhan baru. Dengan pola pikir yang lebih global, mereka mengejar peluang kelas dunia untuk melengkapi bukan menggantikan portofolio lokal mereka," ujar Director of Marketing & Commercial Pluang, Andreas Agung Hendrawan.
Andreas menambahkan, perusahaan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini menguasai sekitar 45 persen kapitalisasi pasar S&P 500 berdasarkan data Goldman Sachs tahun 2026.
Oleh karena itu, akses teregulasi menuju pasar global menjadi krusial agar investor domestik tidak tertinggal dari potensi pertumbuhan ekonomi digital dunia.