Ruben Amorim Buka Suara Soal Kegagalannya di Manchester United

Ruben Amorim
Sumber :
  • id.pinterest.com

VIVA Soccer – Ruben Amorim akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada pendukung Manchester United atas kegagalannya selama menangani Setan Merah. Dalam konferensi pers perdananya sebagai pelatih AC Milan, pelatih asal Portugal itu mengaku membuat banyak kesalahan dan menyesal karena tidak sempat berpamitan maupun berbicara langsung kepada para suporter saat meninggalkan Old Trafford.

img_title Transfer Eropa Memanas! Rashford Menuju Fenerbahce, Olise Buka Peluang ke Real Madrid

Amorim menegaskan pengalaman pahit di Manchester United menjadi pelajaran terbesar dalam karier kepelatihannya. Meski masa baktinya berakhir mengecewakan, ia tetap bangga pernah dipercaya memimpin salah satu klub terbesar di dunia.

"Sulit menjelaskan semua kesalahan yang saya buat. Saya belajar banyak. Saya juga meminta maaf kepada para pendukung Manchester United karena tidak sempat berbicara kepada mereka saat itu. Saya bangga pernah menjadi pelatih mereka, tetapi sekarang itu sudah menjadi bagian dari masa lalu," ujar Amorim.

img_title Manchester United Resmi Rekrut Andrey Santos, Kontrak Panjang hingga 2031

Musim yang Berakhir Jauh dari Harapan

Perjalanan Amorim di Manchester United menjadi salah satu periode paling sulit dalam sejarah modern klub. Di bawah kepemimpinannya, Setan Merah mencatat posisi terburuk di era Premier League, gagal mengangkat trofi Liga Europa setelah kalah di final, serta tersingkir lebih awal di ajang Piala Liga.

img_title Real Madrid Bidik Alexis Mac Allister, Liverpool Terancam Kehilangan Pilar

Serangkaian hasil buruk membuat tekanan terhadap pelatih berusia 41 tahun tersebut terus meningkat hingga akhirnya manajemen memutuskan mengakhiri kerja sama pada Januari 2026.

Meski begitu, Amorim tidak berusaha mencari kambing hitam. Ia justru mengakui ada banyak keputusan yang seharusnya bisa diambil dengan cara berbeda.

Terlalu Memaksakan Filosofi Bermain

Salah satu keputusan yang paling banyak disorot adalah kegigihan Amorim mempertahankan formasi 3-4-2-1 yang sukses membawanya meraih prestasi bersama Sporting CP.

Sistem tersebut ternyata tidak mampu mengeluarkan potensi terbaik skuad Manchester United. Meski kritik terus berdatangan dari media dan pengamat sepak bola Inggris, Amorim tetap enggan mengubah pendekatan permainannya.

Perubahan formasi baru dilakukan menjelang akhir Desember ketika United menghadapi Newcastle United. Ironisnya, perubahan itu langsung menghasilkan kemenangan.

Amorim bahkan sempat mengakui bahwa dirinya menunda pergantian sistem karena tidak ingin dianggap mengikuti tekanan media. Pernyataan tersebut kemudian memicu kritik baru karena dinilai menunjukkan sikap yang terlalu mempertahankan ego dibanding mencari solusi terbaik bagi tim.

Halaman Selanjutnya
img_title