Efek Megawati Hangestri Mulai Terasa, Hak Siaran V-League Jadi Rebutan!
VIVASoccer – Kembalinya Megawati Hangestri Pertiwi ke Liga Voli Korea Selatan bersama Suwon Hyundai E&C Hillstate membuka peluang baru bagi nilai komersial V-League di Indonesia.
Namun, sejauh ini belum terdapat pengumuman resmi yang mengonfirmasi adanya perebutan hak siar musim 2026/2027 antara grup-grup televisi Indonesia.
Yang sudah terlihat jelas adalah meningkatnya eksposur Megawati di media Indonesia setelah kepindahannya diumumkan pada 11 Mei 2026.
Situasi tersebut membuat hak siar V-League menarik dilihat bukan semata sebagai urusan televisi, melainkan sebagai persoalan nilai sebuah konten olahraga.
Bagi pasar Indonesia, pertandingan klub Korea Selatan kini mempunyai satu aset tambahan yang sangat mudah dikenali penonton: Megawati.
Faktor itu penting karena perjalanan Megawati di Korea bukan dimulai dari nol. Ia telah menjalani dua musim bersama Daejeon JungKwanJang Red Sparks sebelum pindah ke Hillstate.
Pengalaman tersebut membuat namanya sudah memiliki basis penggemar dan rekam jejak kompetitif di V-League.
Pada musim 2026/2027, daya tarik tersebut bahkan mendapat cerita baru.
Megawati tidak lagi mengenakan seragam Red Sparks, tetapi menjadi bagian dari Hillstate dan ditargetkan membawa klub Suwon tersebut meraih gelar.
Dalam pernyataannya yang dikutip ANTARA dari media Korea Selatan Daum, Megawati mengatakan dirinya ingin memberikan yang terbaik agar Hillstate mengangkat trofi.
KOVO Sudah Membuka Pasar Internasional
Nilai komersial V-League di luar Korea sebenarnya bukan fenomena baru yang muncul karena Megawati. Korea Volleyball Federation (KOVO) telah mengembangkan distribusi siaran internasional melalui mitra khusus hak siar luar negeri.
Maeil Business Newspaper atau MK, media bisnis Korea Selatan, melaporkan pada Agustus 2024 bahwa KOVO bekerja sama dengan GAD Sports untuk distribusi siaran profesional Korea ke pasar luar negeri.
Kesepakatan tersebut mencakup tiga musim, yakni 2024/2025 hingga 2026/2027, termasuk pertandingan V-League dan KOVO Cup.
Artinya, musim 2026/2027 bukan periode ketika KOVO baru mulai mencari penonton internasional. Kompetisi tersebut memang telah dibangun untuk memiliki jangkauan di luar Korea.
Bahkan sebuah studi kasus mengenai strategi pemasaran KOVO mencatat bahwa federasi tersebut menggunakan distribusi hak siar internasional sebagai bagian dari upaya memperluas jaringan voli Korea di Asia.
Studi itu juga menyebut adanya kerja sama dengan pihak yang menangani distribusi siaran dan streaming global.
Di sinilah keberadaan Megawati menjadi relevan. Ia memberikan wajah yang sangat mudah dipasarkan di salah satu pasar yang memiliki hubungan langsung dengan V-League melalui pemain kuota Asia.
Mengapa Megawati Berbeda dari Sekadar Pemain Asing?
Daya tarik Megawati tidak hanya berasal dari statusnya sebagai pemain asing. Ia sudah mempunyai cerita yang terbentuk selama dua musim pertamanya di Korea.
Kepindahan ke Hillstate juga mendapat perhatian besar dari media Indonesia. RCTI+ melalui kanal iNews, misalnya, menempatkan ambisi Megawati untuk membawa Hillstate menjadi juara sebagai salah satu sorotan utama setelah transfer tersebut diumumkan.
Media Okezone juga terus mengikuti perkembangan Megawati di Hillstate, termasuk ketika klub tersebut mengumumkan Jordan Wilson sebagai pemain asing lainnya.
Wilson mengisi posisi outside hitter, sedangkan Megawati beroperasi sebagai opposite hitter.
Komposisi tersebut menghasilkan materi cerita yang lebih luas daripada sekadar pertandingan.
Penonton Indonesia kini memiliki alasan untuk mengikuti Hillstate sepanjang musim yaitu bagaimana Megawati beradaptasi, bagaimana duetnya dengan Wilson berkembang, dan bagaimana performanya ketika menghadapi mantan klubnya.
Bagi pemegang hak siar, pola seperti ini berharga karena satu pertandingan dapat memiliki lebih banyak pintu masuk editorial. Ada pertandingan Megawati, perjalanan Hillstate, duel melawan Red Sparks, hingga perkembangan karier pemain Indonesia tersebut.
Emtek Sudah Punya Modal dari Ekosistem Voli
Dalam konteks Indonesia, Emtek memang memiliki pengalaman kuat dalam distribusi konten voli. Moji merupakan kanal olahraga milik Emtek dan tersedia melalui ekosistem Vidio.
Kanal tersebut secara rutin menayangkan berbagai kompetisi voli.
Pada 2025, misalnya, Vidio mempromosikan siaran SEA V League serta Moji Volley Cup. Vidio juga mencantumkan Moji sebagai saluran televisi yang menyiarkan pertandingan olahraga, termasuk berbagai kompetisi voli.
Namun, pengalaman tersebut tidak otomatis berarti Emtek memegang hak V-League 2026/2027. Ini dua hal yang harus dipisahkan agar pemberitaan mengenai hak siar tidak berubah menjadi klaim tanpa konfirmasi.
Begitu pula dengan MNC Group. Intensitas pemberitaan Megawati melalui ekosistem RCTI+ menunjukkan adanya perhatian terhadap perjalanan sang pemain, tetapi pemberitaan mengenai seorang atlet tidak dapat dijadikan bukti bahwa sebuah perusahaan telah mengamankan atau sedang bernegosiasi untuk hak siar kompetisi.
Persoalan Utamanya Bukan Televisi, tetapi Distribusi
Perubahan perilaku penonton membuat hak siar olahraga sekarang tidak lagi hanya berkaitan dengan siapa yang menayangkan pertandingan di televisi.
Model yang semakin penting adalah kombinasi free-to-air, streaming, highlight, klip pendek, media sosial, dan konten pendukung. Satu pertandingan dapat menghasilkan banyak produk digital sebelum dan sesudah bola pertama dimainkan.
Model tersebut sebenarnya sudah terlihat dalam ekosistem olahraga yang dijalankan Emtek. Pada SEA V League 2025, misalnya, Moji menayangkan pertandingan melalui televisi, sementara Vidio menjadi kanal streaming.
Jika model serupa diterapkan pada V-League, nilai komersialnya tidak hanya bergantung pada jumlah orang yang duduk menonton pertandingan secara langsung.
Pemegang hak juga dapat mengembangkan preview, wawancara, highlight, statistik, konten pemain, hingga tayangan ulang.
Megawati memberikan keuntungan tambahan karena konten tersebut dapat diproduksi dari perspektif Indonesia meskipun pertandingan berlangsung di Korea Selatan.
Tantangan Terbesarnya Justru Ada di Harga Hak
Popularitas pemain tidak otomatis membuat sebuah hak siar menguntungkan. Ada perhitungan biaya lisensi, biaya produksi, distribusi, promosi, serta potensi pendapatan dari iklan dan pelanggan.
Karena itu, belum tepat menyimpulkan bahwa “Megawati Effect” pasti membuat harga hak siar V-League melonjak atau membuat dua grup media tertentu berebut hak tersebut. Tidak ada data publik yang cukup untuk memastikan klaim tersebut.
Yang lebih aman disimpulkan adalah adanya peningkatan nilai editorial dan pemasaran. Megawati membuat V-League mempunyai satu figur yang dapat digunakan untuk menjembatani kompetisi Korea dengan penonton Indonesia.
Efek itu semakin kuat karena musim 2026/2027 menawarkan narasi berbeda dibanding dua musim sebelumnya.
Megawati akan bermain untuk klub baru, sedangkan Red Sparks tetap menjadi bagian dari cerita masa lalunya. Setiap pertemuan kedua tim otomatis membawa konteks tambahan bagi penonton Indonesia.
Megawati Bisa Menjadi Penggerak, Bukan Jaminan
Nilai terbesar Megawati bagi V-League bukan berarti seluruh penonton Indonesia akan otomatis mengikuti semua pertandingan. Daya tarik seorang atlet tetap harus diterjemahkan menjadi produk siaran yang menarik.
Jika performa Megawati kompetitif, Hillstate bersaing di papan atas, dan duel melawan Red Sparks menghasilkan pertandingan penting, nilai kontennya akan semakin mudah dikembangkan.
Sebaliknya, jika sebuah pertandingan tidak melibatkan Megawati dan tidak memiliki konteks klasemen yang kuat, tantangan pemegang hak adalah membuat penonton tetap tertarik pada kompetisi secara keseluruhan.
Karena itu, musim 2026/2027 dapat menjadi ujian penting bagi V-League di pasar Indonesia. Megawati sudah menyediakan magnetnya.
Tinggal bagaimana nilai olahraga tersebut dikemas menjadi produk siaran yang mampu mempertahankan perhatian penonton sepanjang musim.
Pada akhirnya, kepindahan Megawati ke Hillstate bukan bukti bahwa perang hak siar telah terjadi.
Tetapi transfer itu menciptakan alasan baru bagi industri media Indonesia untuk melihat V-League sebagai konten yang memiliki nilai lebih besar daripada sekadar pertandingan voli Korea.
Jika Megawati mampu tampil konsisten dan Hillstate bersaing dalam perebutan gelar, nilai tersebut berpotensi semakin kuat.
Dalam industri penyiaran olahraga, performa di lapangan tetap menjadi bahan bakar utama. Dan untuk musim baru ini, V-League memiliki satu bahan bakar tambahan bernama Megawati Hangestri.**