Piala Dunia 2026 Terancam Jadi Turnamen Paling Berpolusi dalam Sejarah
VIVASoccer – Kabar mengejutkan datang dari dunia sepak bola internasional. Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara, Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko disebut berpotensi menjadi turnamen dengan tingkat polusi paling tinggi sepanjang sejarah.
Sebuah laporan terbaru berjudul Climate Blind Spot memperingatkan bahwa ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut dapat menghasilkan emisi karbon hingga dua kali lipat dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Berdasarkan studi dari New Weather Institute, sebagaimana dikutip dari Euronews pada Jumat, 5 Juni 2026, dampak lingkungan Piala Dunia menunjukkan lonjakan signifikan:
- Rata-rata Piala Dunia (2010–2022): menghasilkan sekitar 4,7 juta ton setara karbon dioksida (CO2)
- Prediksi Piala Dunia 2026 (skenario minimal): 9 juta ton CO2
- Prediksi Piala Dunia 2026 (skenario terburuk): hingga 15 juta ton CO2
Jika skenario terburuk tersebut terjadi, maka Piala Dunia 2026 akan tercatat sebagai salah satu event olahraga paling merusak lingkungan dalam sejarah modern.
Laporan tersebut mengidentifikasi tiga faktor struktural utama yang menyebabkan lonjakan emisi karbon secara drastis pada turnamen ini.
1. Format Baru yang Lebih Besar
Untuk pertama kalinya, FIFA memperluas jumlah peserta menjadi 48 tim dengan total 104 pertandingan, meningkat sekitar 63 persen dari format sebelumnya.
Penambahan jumlah pertandingan ini berdampak pada meningkatnya mobilitas pemain, ofisial, media, dan jutaan penonton.
2. Jarak Antar Kota yang Sangat Luas
Pertandingan akan digelar di 16 kota yang tersebar di seluruh Amerika Utara dengan jarak ribuan kilometer.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya jaringan kereta cepat di kawasan tersebut, berbeda dengan Eropa atau Asia.
Akibatnya, hampir seluruh perjalanan antar kota harus dilakukan melalui jalur udara.
Sektor penerbangan saja diperkirakan menyumbang sekitar 7,7 juta ton CO2, meningkat hingga 325 persen dibanding turnamen sebelumnya.
3. Kritik terhadap FIFA dan “Titik Buta” Iklim
Laporan ini juga menyoroti kritik keras terhadap FIFA. Federasi sepak bola dunia itu dinilai memiliki titik buta dalam menghadapi krisis iklim, terutama terkait keputusan memperbesar skala turnamen.
Dokumen yang disusun bersama Scientists for Global Responsibility, Environmental Defense Fund, dan The Sport for Climate Action Network menyebut terdapat jurang antara komitmen keberlanjutan FIFA dan realitas operasional turnamen.