Move On dari AFF, Lima Pemain Keturunan Masuk Radar Timnas Indonesia Untuk FIFA ASEAN Cup

John Herdman
Sumber :
  • Pinterest

VIVASoccerTimnas Indonesia mulai mengalihkan perhatian dari Piala AFF 2026 menuju FIFA ASEAN Cup yang dijadwalkan berlangsung September-Oktober 2026.

img_title Menakar Kekuatan Lini Belakang Timnas Indonesia Jelang ASEAN Cup 2026

Bersamaan dengan itu, sejumlah pemain keturunan kembali mencuat sebagai opsi untuk memperkuat skuad Garuda.

Kegagalan di Piala AFF menjadi bahan evaluasi bagi John Herdman. Pelatih Timnas Indonesia itu kini harus menyiapkan komposisi berbeda untuk menghadapi agenda berikutnya.

FIFA ASEAN Cup memiliki nilai strategis tersendiri bagi Indonesia. Turnamen tersebut berlangsung dalam periode FIFA Matchday, sehingga pemain yang berkarier di luar negeri dapat lebih mudah dipanggil jika memenuhi persyaratan.

FIFA ASEAN Cup Jadi Target Berikutnya

FIFA telah memastikan FIFA ASEAN Cup berlangsung pada September-Oktober 2026. Ajang tersebut menjadi kompetisi internasional baru di kawasan Asia Tenggara setelah Piala AFF yang berlangsung pada Juli-Agustus.

Perbedaan kalender tersebut membuat FIFA ASEAN Cup memberikan peluang bagi Indonesia untuk menghadirkan kekuatan terbaiknya.

Pemain yang memperkuat klub luar negeri berada dalam posisi lebih memungkinkan untuk bergabung karena turnamen berlangsung pada jendela internasional FIFA.

Momentum itu menjadi penting setelah performa Indonesia di Piala AFF tidak sesuai target. Herdman kini memiliki kesempatan melakukan evaluasi sebelum memasuki kompetisi berikutnya.

Salah satu area yang dapat diperhatikan adalah kedalaman skuad. Sejumlah pemain keturunan yang sebelumnya dikaitkan dengan Timnas Indonesia kembali relevan ketika Garuda mulai membangun komposisi untuk agenda berikutnya.

Laurin Ulrich Muncul dari Jerman

Nama pertama adalah Laurin Ulrich. Gelandang kelahiran 31 Januari 2005 tersebut dikaitkan dengan Timnas Indonesia karena memiliki garis keturunan dari sang kakek yang disebut berasal dari Surabaya.

Ulrich merupakan pemain yang terafiliasi dengan VfB Stuttgart. Namanya mencuat setelah Staf Khusus Menteri Hukum RI Noor Korompot mengunggah foto sang pemain melalui media sosial.

Namun, keberadaan Ulrich dalam radar tidak berarti proses naturalisasinya telah resmi berjalan. DetikSport mencatat belum ada konfirmasi resmi PSSI mengenai kabar tersebut.

Profilnya tetap menarik karena Ulrich dapat bermain sebagai gelandang serang maupun gelandang tengah. Kehadirannya akan memberikan opsi tambahan di sektor yang membutuhkan kreativitas sekaligus kedalaman.

Julian Oerip Jadi Opsi dari Belanda

Nama kedua adalah Julian Oerip. Pemain kelahiran 26 Oktober 2006 itu memiliki kemampuan bermain sebagai gelandang serang maupun winger.

Oerip berkarier di lingkungan AZ Alkmaar melalui Jong AZ. Usianya yang masih muda membuat namanya lebih cocok ditempatkan dalam proyeksi jangka panjang Timnas Indonesia.

Ketertarikan terhadap Indonesia juga pernah menjadi perhatian melalui aktivitas Oerip di media sosial. Namun, sinyal personal tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai bukti bahwa proses naturalisasi telah dimulai.

Jika nantinya proses tersebut benar-benar berjalan, Oerip akan memberikan alternatif pemain muda untuk sektor serang. Usianya juga membuat profilnya berbeda dari pemain keturunan yang lebih berpengalaman.

Jordy Wehrmann Punya Status Berbeda

Jordy Wehrmann berada dalam kategori yang sedikit berbeda. Gelandang kelahiran 25 Maret 1999 itu sudah memiliki pengalaman bermain di Eropa dan kini memperkuat Madura United.

Wehrmann dapat beroperasi sebagai gelandang bertahan maupun gelandang tengah. Posisi tersebut membuatnya relevan apabila Herdman membutuhkan tambahan kedalaman di area tengah.

Yang membedakan Wehrmann adalah pernyataan dirinya mengenai proses naturalisasi. Dalam wawancara dengan Yussa Nugraha yang kemudian diberitakan Tribun Bali, Wehrmann mengatakan proses tersebut seharusnya sudah berjalan.

Meski demikian, status administratif akhirnya tetap membutuhkan konfirmasi dari pihak berwenang. Karena itu, keberadaannya belum otomatis berarti ia tersedia untuk FIFA ASEAN Cup.

Jenson Seelt Beri Opsi di Belakang

Jenson Seelt menjadi nama yang berbeda karena bermain sebagai bek tengah. Pemain kelahiran 23 Mei 2003 tersebut memiliki postur sekitar 192 sentimeter dan pernah dikaitkan dengan radar naturalisasi Indonesia.

Seelt memiliki pengalaman di sepak bola Eropa dan menjadi bagian dari VfL Wolfsburg dengan status pinjaman dari Sunderland berdasarkan informasi yang diberikan dalam sumber. Profil tersebut membuatnya menarik untuk kebutuhan lini belakang.

Kehadiran bek dengan postur tinggi dapat menambah variasi pilihan di sektor pertahanan. Namun, seperti nama lain dalam radar, belum tepat menyebut Seelt sebagai pemain yang sudah pasti akan dinaturalisasi.

Posisi bek tengah juga menjadi salah satu sektor yang membutuhkan kedalaman karena kebutuhan pertandingan internasional tidak hanya ditentukan oleh sebelas pemain utama.

Rotasi, kebugaran, dan karakter lawan ikut menentukan komposisi yang dibutuhkan pelatih.

Miliano Jonathans Jadi Opsi Serangan

Nama kelima adalah Miliano Jonathans. Pemain kelahiran 20 Februari 2004 tersebut memiliki posisi utama sebagai winger atau gelandang serang.

Jonathans dikenal memiliki kaki kiri dan mempunyai garis keturunan Indonesia dari Depok, Jawa Barat. Namanya telah beberapa kali dikaitkan dengan peluang memperkuat Timnas Indonesia.

Dari sisi kebutuhan skuad, Jonathans memberikan profil berbeda dibandingkan Ulrich, Oerip, dan Wehrmann. Ia dapat menjadi opsi untuk memperkaya variasi serangan dari sisi sayap maupun area belakang penyerang.

Dengan demikian, lima nama tersebut sebenarnya mencakup beberapa sektor sekaligus. Ada pemain tengah, pemain sayap, gelandang bertahan, hingga bek tengah.

Bukan Lima Nama yang Sudah Pasti Dipanggil

Penting untuk membedakan antara pemain yang masuk radar dengan pemain yang sudah berstatus WNI.

Proses naturalisasi memiliki tahapan administratif dan kewarganegaraan yang harus diselesaikan sebelum seorang pemain dapat memperkuat Timnas Indonesia.

Kasus Laurin Ulrich menjadi contoh mengapa status tersebut harus ditulis secara hati-hati. Meski namanya muncul dalam pemberitaan dan dikaitkan dengan radar naturalisasi, belum ada konfirmasi resmi PSSI mengenai prosesnya.

Sebaliknya, Wehrmann pernah menyampaikan bahwa proses naturalisasinya sedang berjalan.

Namun, pernyataan tersebut tetap berbeda dengan pengumuman resmi bahwa proses telah selesai dan pemain telah memenuhi seluruh persyaratan untuk memperkuat Indonesia.

Karena itu, lima pemain tersebut lebih tepat disebut sebagai bagian dari radar atau opsi yang berkembang. Kepastian akhirnya tetap bergantung pada proses resmi dan keputusan tim nasional.

Kesempatan Membentuk Ulang Garuda

FIFA ASEAN Cup memberikan Herdman ruang untuk menyusun ulang skuad setelah evaluasi Piala AFF. Turnamen ini juga memiliki keuntungan karena berlangsung pada kalender FIFA Matchday.

Artinya, pembicaraan mengenai pemain diaspora menjadi semakin relevan. Pemain yang memiliki kewarganegaraan Indonesia atau berhasil menyelesaikan proses sesuai aturan akan memiliki peluang lebih besar untuk tersedia bagi tim nasional.

Bagi Herdman, tantangannya bukan sekadar mengganti beberapa nama. Ia harus menentukan pemain yang paling sesuai dengan kebutuhan permainan setelah melihat apa yang terjadi di Piala AFF.

FIFA ASEAN Cup akhirnya menjadi panggung berikutnya bagi Garuda. Setelah Piala AFF berakhir, fokus Indonesia kini bergeser dari mempertahankan target lama menuju membangun skuad yang lebih siap menghadapi kompetisi baru.

Lima pemain keturunan yang masuk radar menjadi bagian dari proses tersebut. Namun, sebelum berbicara tentang debut, langkah terdekatnya adalah memastikan siapa yang benar-benar memenuhi syarat dan tersedia ketika FIFA ASEAN Cup dimulai.**

img_title Megawati Hangetri Jadi Ancaman Dua Arah di KOVO Cup 2026